Gawang Lokasi
Objek kajian ilmu falak yang sampai saat ini masih menimbulkan masalah sehingga getol dipelajari adalah awal bulan qamariyah. Penetapanan awal bulan qamariyah yang dilakakukan dengan rukyatul hilal (melihat hilal untuk menentukan tanggan satu bulan hijriyah) tidak lepas dari keberadaan alat-alat bantu. Seiring perkembangannya teknoligi, alat yang digunakan untuk rukyatul hilal semakin modern dan canggih. Namun demikian, alat-alat yang tradisional pun masih digunakan hingga saat ini. Selain sebagai khazanah pengetahuan yang harus terus dilestarikan, juga sebagai pembanding alat-alat modern.
Salah satu alat tradisional yang dapat digunakan untuk rukyatul hilal adalah gawang lokasi. Gawang lokasi merupakan sebuah alat yang digunakan untuk melokalisir posisi hilal dalam pelaksaan rukyah[1]. Alat ini menggunakan konsep sumbu sebagaimana yang dimiliki oleh theodolite dan teropong, yaitu sumbu horizontal untuk mengukur azimuth dan sumbu vertical untuk mengukur tinggian. Namun konsepnya sudah diubah menjadi ukuran seperti meter atau sentimeter bukan lagi berupa sudut.
Alat ini merupakan buah karya K.H. Sa’doedin Djambek (1911-1977), ahli falak dari Sumatera barat, bersama K.H.T. Tangsoban. Ahli falak dari Sukabumi. Alat ini diperkirakan ditemukan pada tahun 1900-an. Karena ditemukan oleh kedua ahli falak tersebut, maka alat ini popular di kalangan ahli hisab dengan nama “BEKTANG” (Djambek Tangsoban). Setelah beberapa lama digunakan untuk rukyatul hilal, alat ini kemudian disempurnakan oleh Drs. H. Wahyu Widiana, MA., adalah seorang ahli falak Indonesia, kemiringan gawang lokasi disesusaikan dengan kemiringan “perjalanan hilal” yaitu kurang dari 15 derajat.
Untuk menggunakan alat ini , terlebih dahulu kita harus mengukur ketinggian hilal diatas ufuk tempat rukyat, posisi dan jarak dari titik arah barat. Sebelum alat gawang lokasi dan tongkat pengintai diletakkan secara bertahap-tahapan, terlebih dahulu juga perlu diukur berdasarkan perhitungan matematis (trigonometri sesuai dengan data-data astronomis hilal awal bulan yang akan di rukyat). Tongkat pengintai dengan gawang lokasi fokus lurus ke arah hilal yang akan di rukyat.
Gawang lokasi kini telat diproduksikan oleh beberapa lembaga dan menyebutnya dengan nama berbeda. Diantara nama lain yang digunakan untuk menyebut gawang lokasi adalah hilal locator (peletak jejak hilal), sky tracker (pemburu jejak langit) dan hilal tracker (pemburu jejak hilal). Salah satu hilal locator yang dibuat adalah Henset Hilal Locator. Alat ini dibuat oleh Hendro Setyanto melalui lembaganya bernama Mizwala Falak Instrument, karena itu diberi nama Henset kependekatan dari namanya. Henset hilal locator telat mengalami beberapa modifikasi. Modifikasi pertama dibuat dengan besi yang agak tebal dan dapat diberdirikan. Sedangkan henset modifikasi kedua dibuat dari bahan akrilik 5 mm dengan berdimensi 400 mm x 280 mm. alat ini hanya berbentuk persegi sebagai gawangnyatanpa penyangga dan tiang pembidik. Alat ini di buat tahun 2010.
Gawang Lokasi
Salah satu gawang lokasi yang memiliki bentuk berbeda dengan gawang lokasi pada umumnya adalah tiang rukyat koordinat. Alat ini dibuat oleh Mahfued Rifa’I sekitar tahun 1997 dengan memodifikasi gawang lokasi yang asli. Yang berbeda dari tiang rukyah koordinat ini adalah bidang untuk mengamati posisi hilal. Bila pada gawang lokasi umumnya dibuat persegi, pada alat ini dibuat memanjang dengan 12 tangga. Tangga-tangga tersebut menunjukkan skala ketinggian hilal dari 0 hingga 12 derajat. Dengan adanya skala tersebut, alat ini juga mengetahui pergerakan hilal. Sebagaimana gawang lokasi, alat ini juga memiliki komponen tiang rukyat dan tiang pengamat. Tiang rukyat dibuat dengan tinggi 264 cm dengan tangga berjumlah 12 dimana setian tangga berjarak 1 derajat. Sedangkan tiang pengamat dibuat dengan tinggi 140 cm dan dipasang dengan jarak 5 m dari tiang rukyat. Tiang ini berfungsi sebagai tempat pengamat ketika membidik hilal. (sky tracker, pengembangan dari gawang lokasi)
Gawang lokasi versi terbaru di Indonesia diproduksi oleh RHI dengan nama gawang lokasi modern. Alat ini merupakan modifikasi dari gawang lokasi tradisional. Gawang lokasi versi ini terbuat jenis ini terdiri dari beberapa komponen yaitu gawang dengan tripod besar dan pembidik berupa monokular atau binokular serta tripod penyangga. (gawang, tripod, pembidik monokular dan binokular)
Alat yang sejenis dengan gawang lokasi RHI ini adalah hilal tracker, gawang lokasi masa sekarang sudah berevolusi menjadi alat dengan tmapilan yang lebih modern. Tidak lagi dibuat dari pipa atau besi, namun dibuat dari acrilic yang lebih ringan dan tidak berkarat. Kini, gawang lokasi dikenal dengan nama baru yaitu sky tracker atau hilal tracker. Hilal tracker terbaru yang diproduksi oleh RHI dan ada yang berbentuk handheld. Hilal ini hanya terdiri dari kotak gawang lokasi saja tampa tiang. Cara penggunaanya dengan dipegang oleh pengamat. (hilal handheld, dilengkapi dengan hilal tracker tripod dan kompas)
Gawang lokasi memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan alat-alat modern lain dalam pelaksaan rukyatul hilal, diantaranya adalah ia merupakan alat sederhana dan murah perukyat akan dengan mudah melokasasi pandangan agar tertuju ke arah posisi hilal yang sudah diperhitungkan karena lubang pengincar pada gawang lokasi tidak begitu luas, dan hilal dapat diamati oleh banyak perukyah ( tidak hanya satu orang saja sebagaimana pada alat-alat optik). Namun demikian, alat ini memiliki beberapa kekurangan. Dalam mempersiapkannya membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus memperhitungkan posisi peletakannya yang tepat. Disamping itu, gawang lokasi masih membutuhan alat lain seperti kompas untuk menentukan arh dan pembuatan peta rukyat. Sistemnya yang masih manual juga menjadi ruang kesalahan dalam penepatan gawang lokasi seperti posisi tiang pengincar maupun gawangnya tidak lurus.
2.1 Komponen-Komponen Gawang Lokasi
Komponen dari gawang lokasi, yaitu :
Alat ini pada prinsipnya terdiri dari alas yang dilengkapi skala pembacaan jarak dan tiang penunjuk ketinggian yang juga diberi skala pembacaan. Bagian-bagian gawang lokasi sebagai berikut :
1. Tiang pembidik
Sebuah tiang tegak terbuatdari besi yang tingginya sekitar satu sampai satu setengah meter dan pada puncaknya diberi lubang kecil untuk membidik hilal.
2. Gawang lokasi
Gawang lokasi adalah dua buah tiang tegak, terbuat dari besi berongga, semacam pipa. Pada ketinggian yang sama dengan tinggi tiang teropong, kedua tiang tersebut dihubungkan oleh mistar datar, sepanjang kira-kira 15 sampai 20 cm, sehingga bila kita melihat melalui lubang kecil yang terdapat pada ujung pengincar penyinggung garis atas mistar tersebut, pandangan kita akan persis seperti permukaanair laut yang merupakan ufuk mar’i (visible horizon). Diatas kedua tiang tersebut terdapat kedua tiang besi yang atasnya sudah dihubungkan oleh mistar datar. Kedua tiang ini dimasukan kedalam rongga dua tiang saat observasi. Jarak yang baik antara tiang pengincar dan gawang lokasi sekitar 5 meter atau lebih. Jadi fungsi gawang lokasi ini adalah untuk melokalisir pandangan kita agar tertuju kea rah posisi hilal yang sudah diperhitungkan dahulu. ( konsep gawang lokasi )
2.2 Fungsi Gawang Lokasi
Gawang lokasi pada dasarnya berfungsi sebagai alat bantu rukyat. Namun dalam penggunaannya, alat ini tidak dapat berdiri sendiri karena membutuhkan alat untuk menentukan arah mata angin, terutama arah barat sebagai dasar untuk memposisikan gawang lokasi di tempat rukyat. Disamping itu, kedataran tempat serta memposisikan gawang lokasi pada posisi tegak lurus (tidak miring) sangat penting, karena akan mempengaruhi hasil pengamatan. Beberapa fungsi gawang lokasi, diantaranya :
1. Melokalisir arah terbenam matahari
Dengan menggunakan gawang lokasi, arah terbenam matahari akan tergambar dan terlokalisir dalam kotak gawang lokasi. Dengan catatan penempatan gawang lokasi sudah tegak lurus serta arahnya tepat sesuai arah mata angin yang sejati.
2. Melokalisir arah terlihatnya hilal
Dengan melokalisir arah terbenam matahari, maka arah terlihatnya hilal dari posisi terbenam matahari juga akan tergambar dalam kotak gawang lokasi. Dari sis azimuth (arah) serta altitude (ketinggian) hilal akan terlihat dalam kotak gawang lokasi.
3. Memfokuskan arah pandangan pengamat
Setelah dapat melokalisir arah terbenam matahari dan arah terlihatnya hilal, maka akan menfokuskan arah pandangan pengamat untuk melihat hilal, yakni hanya sebatas kotak gawang lokasi saj dengan posisi hilal yang sudah ditentukan sesuai dengan hasil perhitungan. Dengan demikian, pengamat akan dengan mudah melakukan pengamatan. Disamping itu, pengamat dengan gawang lokasi bias atau lensa yang ada pada teleskop atau theodolit, cukup dengan mata telanjang. Tidak seperti teleskop atau theodolit yang hanya bias dilihat oleh satu orang pengamat.
Kelebihan gawang lokasi dibandingkan dengan alat yang lain dalam rukyatul hilal bahwa gawang lokasi adalah alat yang sederhana dan relatif murah, namun tidak kalah akurat dengan alat-alat lain seperti theodolit, teleskop, dan sebagainya. Dengan membuat gawang lokasi yang benar, maka pandangan pengamat akan mempengarah ke posisi hilal yang benar. Gawang lokasi ini akan mebantu dalam pelaksanaan rukyatul hilal di samping alat-alat theodolit dan teleskop.
[1] Badan Hisab Rukyat Kementrian Agama Republik Indonesia, Almanak Hisab Rukyat (Jakarta : DIPA Bimas Islam, 2010), hlm. 231.


Komentar
Posting Komentar